Jangan Jadi Generasi Ompong



Saat saya sedang bosan dan tidak ada kegiatan yang bisa saya lakukan biasanya saya akan menyalakan tv untuk mengusir rasa bosan, tetapi malam ini tidak ada acara yang menarik, jadi saya putuskan untuk mematikan tv dan mengambil android saya. Saat saya membuka salah satu media sosial, saya melihat ada hal yang menarik perhatian saya dan mengingatkan saya akan satu artikel yang pernah saya baca. Artikel itu berjudul "Generasi Ompong" yang ditulis oleh Bambang Pamungkas di website pribadinya.

Lalu apa itu generasi ompong ?
Ompong artinya tidak punya gigi, dan orang yang ompong bila makan akan menelan langsung makanannya tanpa mengunyah makanan itu terlebih dahulu. Makanan yang langsung ditelan akan membawa efek buruk bagi kesehatan. Begitu juga dengan informasi, bila kita menelan langsung suatu informasi tanpa mengunyahnya terlebih dahulu,maka bisa saja hal buruk akan terjadi pada kita.

Dan itulah yang saya temui malam ini. Seorang teman membagikan informasi yang menurut saya sedikit janggal. Setelah saya telusuri ternyata benar dugaan saya, informasi yang teman saya bagikan itu hoax atau tidak benar dan cendrung menyesatkan, apalagi informasi yang ia bagikan adalah informasi mengenai kesehatan, dan lebih mirisnya lagi dia bukan satu satunya orang yang membagikannya. Informasi tersebut dibagikan oleh ratusan orang lebih. Hal ini menjadi cerminan bahwa masih banyak orang "ompong" di negara yang kita cintai ini, Indonesia.

Kesimpulannya, genarasi ompong adalah mereka yang langsung menelan mentah mentah segala informasi yang mereka terima tanpa mereka kunyah terlebih dahulu. Bila kita menerima informasi ada baiknya kita mencari tahu kebenaran informasi tersebur, agar kita tidak mudah disesatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab menyebarkan informasi hoax.
Dan akhir kata saya berpesan.

"JANGAN JADI GENERASI OMPONG"

Hadapi Stress ? Letakkan Gelasnya !


Semua orang pasti pernah menemui masalah dalam hidupnya. Dan tak jarang masalah itu akan membuat stress dan pusing tujuh keliling. Stress bisa hadir karena kita terlalu sering memikirkan masalah yang sedang kita hadapi.

Berbicara mengenai stress , saya jadi teringat sebuah kisah yang pernah saya baca. Kisah ini bercerita mengenai seorang psikolog yang  sedang memberikan penjelasan tentang stress management  kepada peserta yang hadir dalam seminarnya. Psikolog itu memasuki ruangan tempat dimana seminar itu berlangsung sambil membawa gelas yang didalamnya terdapat air. Saat psikolog itu mengangkat gelasnya, semua yang hadir mengira psikolog itu akan bertanya "gelas ini setengah kosong atau setengah terisi" . Namun tanpa diduga psikolog itu malah bertanya "Kira kira seberapa beratkah gelas ini ?" Dan rata rata mereka menjawab antara 8 ons sampai 20 ons.
Dan psikolog itu menjawab "Sebenarnya berat gelas itu tidak berpengaruh. Yang berpengaruh adalah seberapa lama saya mengangkatnya. Jika saya mengangkatnya selama satu menit, itu tidak masalah. Jika saya mengangkatnya selama satu jam, maka lengan saya akan terasa sakit. Jika saya mengangkatnya selama satu hari, lengan saya akan mati rasa dan lumpuh. Pada kasus ini beban yang dirasakan lengan kita bertambah bukan karena berat dari gelas itu yangbertambah, tapi karena saya menahannya terlalu lama, dan itulah yang membuat lengan saya terasa sakit."
Psikolog itu melanjutkan " stress dan masalah dalam hidup sama seperti segelas air. Jika kita memikirkannya untuk sementara waktu , maka tidak ada yang akan terjadi. Jika kita memikirkannya lebih lama, maka itu akan mulai menyakitkan. Jika kita memikirkannya sepanjang hari, maka kita akan merasa lumpuh-tidak bisa melakukan apapun-"

Jadi, jika kita mempunyai suatu masalah, seberat apapun masalah itu. Cobalah untuk melupakan sejenak masalah itu. Jangan kita pikirkan masalah itu sepanjang waktu, karena itu akan menyiksa diri kita sendiri. Jangan angkat gelas kita sepanjang hari , karena itu akan menyiksa lengan kita. Dan akhir kata saya ingin berpesan...

Jangan lupa letakkan gelasnya !